NILAI MERAH DI SUDUT MEJA

NILAI MERAH DI SUDUT MEJA

Sebelum akhirnya aku tahu bahwa diriku lebih dari sekadar angka.

Dulu, matematika adalah pelajaran yang paling kutakuti.

Setiap angka di papan tulis terasa asing. Semakin keras aku mencoba memahami, semakin jauh rasanya aku tertinggal.

Dan setiap kali hasil ulangan dibagikan, aku hanya menunggu satu hal: nilai merah di sudut meja.

Aku pernah berpikir bahwa anak pintar hanyalah mereka yang bisa menghitung cepat.

Sedangkan aku?

Aku hanya anak yang selalu bingung melihat angka.

Pelan-pelan aku mulai takut bertanya.

Takut dipanggil ke depan kelas.

Takut terlihat bodoh.

Sekolah terasa melelahkan.

Yang paling menyakitkan ternyata bukan nilai jelek.

Melainkan perasaan ketika mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Aku merasa tidak cukup.

Tidak sepintar mereka.

Tidak layak dibanggakan.

Dan tanpa sadar, aku mulai mengukur diriku dari angka di lembar ujian.

Sampai suatu hari aku sadar, mungkin aku memang tidak tumbuh lewat angka.

Aku lebih nyaman dengan kata-kata.

Aku senang membaca.

Aku menikmati menulis diam-diam di halaman belakang buku.

Di sana, aku merasa menjadi diriku sendiri.

Waktu berjalan. Dan aku mulai memahami satu hal:

tidak semua anak diciptakan untuk hebat di tempat yang sama.

Ada yang bersinar lewat hitungan.

Ada yang tumbuh lewat cerita.

Dan tidak apa-apa.

Hari ini, aku berdiri di depan kelas sebagai guru bahasa.

Kadang aku masih mengingat anak kecil yang dulu begitu takut pada matematika. Anak yang pernah merasa gagal hanya karena tidak pandai menghitung.

Padahal ternyata, dirinya jauh lebih besar daripada angka di sudut meja.

Sekarang aku percaya, pendidikan seharusnya tidak membuat anak merasa kecil.

Karena setiap murid punya caranya sendiri untuk tumbuh.

Dan kadang, yang paling dibutuhkan seorang anak bukan tekanan untuk menjadi sempurna

melainkan seseorang yang melihat lebih dari sekadar nilai di kertas ujian.

PELAKSANAAN MBG (MAKAN BERGIZI GRATIS) di BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan berkah bagi umat Islam di seluruh dunia, tidak terkecuali bagi para siswa di SMPN 19 Malang. Di tengah kewajiban dalam menjalankan ibadah puasa dan upaya meningkatkan amal ibadah, tantangan fisik seringkali muncul akibat perubahan pola makan. Menanggapi hal tersebut, pemerintah terus berupaya dalam mendukung pemenuhan nutrisi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang kini hadir dengan penyesuaian kebutuhan siswa selama bulan suci. Setiap hari sebelum pulang, perwakilan setiap kelas bertugas mengambil MBG yang telah tersedia di Lorong sekolah dan membaginya secara merata kepada setiap siswa saat di kelas.

Siswa SMPN 19 Malang menunjukkan ketertarikan yang meningkat terhadap program MBG kali ini. Hal ini disebabkan karena Program MBG di SMPN 19 Malang bukan hanya sekedar pembagian makanan biasa namun juga mengedepankan pemenuhan kebutuhan makro dan mikro nutrient siswa. Oleh karena itu, setiap paket makanan dirancang secara strategis agar dapat menjadi asupan yang berkualitas saat berbuka puasa, tanpa mengabaikann aspek kesehatan jangka panjang. Estetika dalam penyajian dan keberagaman menu yang lebih menarik telah sesuai dengan selera siswa generasi muda terbukti dapat meningkatkan selera makan siswa. Hal ini terlihat dari menu MBG yang disediakan kali ini yang terdiri dari susu kotak, buah segar, roti, kurma, dan kacang-kacangan. Kombinasi makanan ini tidak hanya lezat tapi juga memberikan energi serta gizi baik yang dibutuhkan setiap siswa. Susu kotak berfungsi sebagai sumber kalsium dan protein, sementara buah-buahan menjadi penyedia vitamin yang penting bagi tubuh. Roti sebagai sumber pengganti karbohidrat, kurma yang kaya nutrisi dan energi cepat, serta kacang-kacangan yang memberikan lemak sehat, menjadikan paket MBG ini bermanfaat untuk Kesehatan siswa. Kombinasi ini menciptakan sinergi gizi yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memastikan siswa mendapatkan energi yang cukup setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Variasi dalam paket harian ini juga membuat siswa merasa sangat senang dan lebih antusias dalam penerimaan MBG.

Tak hanya menu MBG yang menarik perhatian siswa namun, penggunaan kemasan mika modern dan tertutup rapat tak kalah menariknya. Kemasan ini menjaga makanan agar tetap bersih, higienis, dan memudahkan siswa dalam membawa menu MBG pulang untuk dinikmati saat waktu berbuka tiba. Keberhasilan program MBG ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan lokal sekolah dapat menciptakan perubahan positif yang signifikan seperti lingkungan belajar yang sehat dan sportif, bahkan ditengah tantangan fisik selama berpuasa. Program ini tak sekedar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun rasa aman dan perhatian bagi siswa dalam menjalankan ibadah di tengah tuntutan akademik. Sehingga dengan adanya dukungan dalam pemenuhan nutrisi yang konsisten ini diharapkan dapat terus berjalan tak hanya pada bulan Ramadhan saja melainkan sepanjang tahun ajaran, sehingga siswa dapat mencapai potensi maksimal mereka dalam belajar serta meningkatnya kesehatan siswa